Bingung Menerapkan GMP dalam perusahaanmu? Simak Panduan penilaian Audit GMP berikut ini

Tata Cara Pengolahan Pangan yang Baik atau Good Manufactoring Practisec, menjadi syarat penting dalam perijinan di Indonesia. Hal ini akan menjadi fondasi awal dalam arah dan kebijakan perusahaan untuk mendapatkan Sertifikasi Halal, ISO, SNI dan SMK3L. Dalam banyak Industri , tidak hanya industri makanan hal ini penting agar menaikkan nilai jual, menaikan kepercayaan publik dan menimbulkan custumer yang royal. GMP yang berkelanjutan akan memberi manfaat bagi 2 pihak. Perusahaan itu sendiri baik karyawan, dan management dan pemiliknya serta pelanggannya. Implementasi GMP yang baik tidak hanya membangun budaya kerja yang baik ,meminimalisir terjadinya kecelakan kerja tapi juga pada akhirnya akan memperkecil biaya yang ditimbulkan karena sakit, waktu kerja yang tak produktif hingga target dan profit bisa ditingkatkan.

Di Dalam melakukan audit terhdap implemetasi GMP di perusahan tersebut, setiap auditor dan auditee wajib memiliki pedoman yang sama. dAn dituangkan dalam buku pedoman penilaian audit. Jika perusahaan telah menerapkan halal (Sistem Jaminan Halal), sebaiknya GMP (Good Manufactoring Practise) digabung menjadi Satu sehingga disebut GHMP yaitu Good Halal Manufactoring Practise. Namun jika perusahaan tersebut menerapkan sistem GMP /CPMB dan SJH secara terpisah dalam buku pedoman mereka pun tak mengapa, hanya saja dinilai lebih tidak praktis dan memerlukan bukti rekaman, dokument yang berbeda. Dalam memberikan penilaian saat audit internal yang dilakukan di masing-masing perusahaan, setiap perusahaan harus menuliskan standar penilaian  untuk setiap parameter /point audit dalam bentuk tertulis pedoman penilaian audit GMP dan setiap karyawan baik internal auditor dan auditee harus memiliki pedoman tersebut dan dipahami. Untuk parameter GHP ( Good Halal Practice) akan diberikan dalam postingan terpisah

Di dalam menyusun /membuat dan melaksanakan kegiatan, seorang auditor atau auditee. Harus memastikan bahwa unit kerjanya telah sesuai dengan parameter GMP. Hasil skorsing nilai GMP, akan memberikan evaluasi terhadap unit kerja tersebut perlukan improvisasi, memperbaiki diri secara total dan parsial, atau malah tidak menjalankan GMP dengan baik sama sekali. Sehingga tujuan perusahaan akan lebih tercapai dan terarah. Yang hasil akhirnya akan mendapatkan kepercayaan dari pelanggan.

Personel Hygiene & Perlengkapan Kerja

Tujuan dari panduan penilaian GHMP parameter pekerja adalah untuk memastikan bahwa perilaku pekerja sesuai dengan standar GHMP dalam melakukan cara -cara produksi yang baik dan halal, serta menggunakan kerja yang sesuai untuk mencegah kontaminasi yang berdampak terhadap kehalalan dan keamanan pangan. Perlengkapan dirancang, dialokasikan, dibersihkan , dipelihara dan diinstall dengan benar dan sesuai penggunaan. Parameternya mencangkup

a. Pakaian dan barang pribadi disimpan ditempat yang telah disediakan di area produksi / kerja (Locker, Lemari Kerja )

Tersedia tempat khusus yang teridentifikasi untuk penyimpanan pakaian /barang pribadi
Tempat penyimpanan tersebut dalam kondisi bersih (bebas sampah/kotoran) dan layak
Tidak ditemukann pakaian /barang pribadi diluar tempat tersebut atau berada bebas diarea produksi /area kerja

b. Tidak ada bahan terlarang terbawa atau bukan bahan pelengkap pekerjaan ada di area produksi /kerja khususnya packaging finish product

Bahan terlarang yang dimaksud dapat berupa staples, pita, karet gelang, paku, penjepit rambu, pisau cutter , name tak, bahan dari gelas, bahan -bahan lain yang tidak diperlukan sebagai bahan / alat perlengkapan pada pekerjaan di area tersebut

c. Tersedia aturan yang melarang merokok, makan, minum dan penggunaan perhiasan /jam tangan di area produksi /kerja  (Disesuaikan  masing – masing area)

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Terdapat aturan yang jelas dan tertulis mengenai larangan makan, minum dan penggunaan perhiasaan di area produksi (disesuaikan checklist masing – masing area ). Aturan mengenai larangan ini dapat dicantumkan dalam prosedur dua area audit atau tersedia Buku Saku GHMP di area audit
  • Karyawan memahami mengenai peraturan tersebut. Hal tersebut dari hasil uji sampling dan interview kepada pekerja di area tersebut

d. Tidak terdapat puntung dan abu rokok, makanan/minuman , dahak atau ludah di dalam area kerja /produksi 

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Area produksi/area kerja harus bebas dari cemaran berupa puntung rokok, abu rokok, makanan/minuman, dahak atau ludah
  • Kemasan bekas makanan dan minuman di area produksi /kerja juga diperbolehkan karena itu menunjukkan bahwa karyawan melakukan aktifitas makan dan minum di Area tersebut
  • Cemaran dengan jenis sama ditemukan mengumpul di satu tempat, dihitung sebagai satu temuan

e. Rambut pekerja rapi dan tidak menggunakan jam tangan /perhiasan (disesuaikan checklist masing -masing area)

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Perhiasan meliputi gelang, cincin, anting -ating atau aksesoris lainnya yang menempel pada tubuh pekerja
  • Rambut pekerja rapi, tidak melebihi kerah baju atau rambut dapat tertutup seluruhnya dengan topi produksi
  • Pekerja tidak menggunakan perhiasan 
  • Pekerja tidak menggunakan jam tangan (disesuaikan checklist Masing -masing area)

f. Pekerja menggunakan perlengkapan kerja (disesuaikan dengan checklist area)

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Perlengkapan kerja berupa seragam kerja, sepatu produksi, tutup kepala, sarung tangan dan masker tersedia di Area kerja sesuai dengan keperluannya (Disesuaikan checklist masing – masing area)
  • Pekerja menggunakan perlengkapan kerja yang diperlukan dengan benar dan sesuai dengan aktifitasnya di area kerjanya
  • Perlengkapan kerja (tutup kepala, masker, sarung tangan ) yang digunakan dalam kondisi bersih dan layak pakai
  • Kelayakan perlengkapan kerja dikaitkan dengan fungsinya , contohnya : sarung tangan tidak berlubang , kondisi topi hairnet tidak berlubang , tali masker masih lengkap dll

g. Pekerja di area produksi mengenakan pakaian kerja dan sepatu produksi yang tidak kotor (terlihat bersih). 

Kotoran yang dimaksudkan disini adalah noda atau cemaran yang melekat pada pakaian/ sepatu pekerja tetapi tidak termasuk kotoran yang berasal dari aktifitas pekerja di area kerjanya, atau debu produk di area produksi , noda oil di area maintenace /workshop dll

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Pekerja menggunakan pakaian kerja yang tidak kotor
  • Pekerja menggunakan sepatu kerja yang tidak kotor 

h. Pekerja mematuhi dan tidak melakukan kebiasaan yang terlarang di area produksi

Pada saat bekerja, tidak ditemukan pekerja yang melakukan kebiasaan terlarang yaitu menyentuh kotoran dengan tangan; memasukkan jari pada mulut, telinga atau hidung; mengambil sampel dengan tangan ; bersin atau batuk mengarah ke produk ; meludah dan membuang ingus ; mengunyah permen karet dll

i.  Pekerja memahami cara mencuci tangan dan melakukannya dengan benar (interview & observasi )

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Tersedia wastafel /sarana mencuci tangan sebelum masuk area produksi /area kerja
  • Pekerja memahami cara mencuci tangan yang baik yaitu dengan menggunakan air bersih pada westafel yang tersedia, kemudian menggunakan sabun dan mengeringkanya 
  • Setiap karyawan yang memasuki area produksi harus mencuci tangan terlebih dahulu  

j. Tidak ditemukan pekerja sedang merokok, makan dan minum di area produksi/kerja

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Pekerja tidak merokok, makan dan minum di area produksi /kerja
  • Merokok, makan dan minum hanya diperbolehkan dilakukan di tempat yang telah ditentukan

k. Tidak ditemukan pekerja (kontak langsung dengan produk) sedang dalamm kondisi sakit atau mempunyai luka terbuka

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Tidak ditemukan pekerja sedang dalam kondisi sakit yang menular (batuk, pilek, sakit mata, sakit kulit)

l. Kondisi toilet bersih dan tidak berbau

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Kondisi toilet bersih : tidak ditemukan sampah, lumpur dalam jumlah berlebihan, sawang (sarang laba -laba) pada dinding toilet atau kotoran – kotoran lainnya yang disebabkan oleh tidak terawatnya toilet tersebut 
  • Saluran air berfungsi dengan baik (air tidak menggenang)
  • Perlengkapan toilet tersedia (pengering tangan / tissue & sabun)
  • Tersedia tempat sampah
  • Bak penampung air dalam keadaan bersih dan layak : tidak ditemukan lumut, kotoran yang menempel di dinding bak dll
  • Kondisi toilet tidak berbau menyengat yang berasal dari sisa kotoran atau bau yang berasal dari selokan di sekitar

Semua point Hygiene  personal akan diberi nilai /skor toilet. 
Panduan penilaian /skoring hasil audit pada checkpoint :
Nilai
Keterangan
10
Semua standar terpenuhi
7
Ditemukan 1 – 3 penyimpangan dari standar tersebut
3
Ditemukan 4 -5 penyimpangan dari standar tersebut
0
Ditemukan 6 atau lebih penyimpangan dari standar tersebut

Pengendalian hama (Pest management)

Untuk memastikan PEST (Prevention, Exclucion, & Sanitation) berjalan dengan efektif maka perlu pengawasan dan evaluasi berkelanjutan. Yang meliputi 

a. Kondisi penyimpanan produk / supporting material ( disesuaikan  masing – masing area) ataupun penaatan peralatan rapi, tidak mendukung terbentuknya lingkungan yang kondusif terhadap aktivitas hama (sarang hama)

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Produk /supporting material /Packing Material (disesuaikan checklist masing – masing area) disimpan pada tempat yang telah ditentukan 
  • Produk /supporting material /packaging material yang disimpan dalam kondisi tertutup dan bersih (tidak ditemukan sawang / sarang laba – laba , kotoran hewan dll)
  • Peralatan yang sedang tidak digunakan disimpan pada tempat yang telah ditentukan
  • Peralatan yang sedang tidak digunakan disimpan dalam kondisi tertutup atau bersih (tidak ditemukan sawang / sarang laba -laba, kotoran hewan dll)

b. Kondisi bangunan (lubang, pintu , jendela, ventilasi, saluran dan titik – titik lain di area bangunan /gudang) tidak menimbulkan potensi masuknya hama

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Dinding tidak retak /rusak/terbka karena kerusakan
  • Pintu ke arah luar tertutup atau dilengkapi dengan peralatan yang dapat mencegah masuknya hama (pemasangan plastic curtain , kawat kasa dll)
  • Jendela area produksi , terutama yang kontak langsung dengan produk harus selalu tertutup untuk mencegah kontaminasi silang terutama oleh debu 
  • Tidak ditemukan saluran /titik -titik terbuka yang berpoensi masuknya hama

c. Ada pemisahan sampah sesuai dengan peruntukannya

Sampah di area produksi / area kerja dipisahkan menurut klasifikasinya yaitu sampah sisa aktifitas produksi /kegiatan kerja dan sampah yang bukan merupakan sisa aktifitas produksi / kegiatan kerja pada area audit tersebut (contohnya : sampah sisa makana, kemasan minuman dll) 
penggolongan sampah dapat berbeda – beda disesuaikan dengan kegiatan kerja di area audit tersebut
Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Tersedia tempat sampah terpisah sesuai dengan peruntukkanya
  • Kondisi tempat sampah pada tempatnya /sesuai jenisnya
  • Pembuatan sampah pada tempatnya /sesuai jenisnya
  • Tidak ditemukan sampah tercecer / tidak ada timbunan sampah disekitar tempat sampah tersebut
  • Area ditempat sampah tersebut tidak berbau menyengat

d. Tidak ada tanda -tanda aktifitas  hama /binatang diluar area produksi /kerja

yang dimaksud luar area produksi /kerja adalah lingkungan di sekitar bangunan area produksi /kerja (sampai jarak 3 meter dari dinding bangunan. Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Tidak ada aktifitas rodensia dan atau tidak terlihat sarang burung pada area tersebut
  • Tidak ada tanda -tanda keberadan hewan pada area tersebut seperti kucing, anjing, kelinci, kecoa, burung dll
  • Tidak ditemukan kotoran hewan berada pada area tersebut
  • Tidak terdapat tanda -tanda keberadaan hama termasuk serangga, sarang laba – laba, tikus, cicak, semut atau burung di area tersebut
  • Tidak terlihat bekas gigitan tikus atau hewan lainnya pada kemasan /peralatan yang berada di area tersebut

Sanitasi , bangunan dan peralatan dan operasional produksi

Lay out dan rancang bangunan meminimalkan resiko kesalahan dan pembersihan lokasi efektif dan pemeliharaan dilaksanakan untuk menghindari kontaminasi silang, debu atau kotoran dan secara umum jika berdampak terhadap mutu produk serta memastikan kecukupan pembersihan dan prosedur sanitasi di tempat kerja untuk melindungi produk dari kontaminasi 

a.  Bangunan dan area sekitar dipelihara dengan baik , sesuai jadwal, rapi dan bersih

  Standar : 
  • Tidak ditemukan sawang (sarang laba-laba) pada langit – langit /dinding
  • Lantai tidak berlubang, bersih dari debu, pasir , lumpur dan kotoran lainnya
  • Area disekitar bangunan bersih, tidak ditemukan gulma, rumput panjang atau masalah dengan saluran air dan saluran pembuangan
  • Tersedia jadwal pemeliharaan bangunan dan area di sekitarnya
  • Pelaksanaan pembersihan bangunan dan area disekitarnya
  • Dokumentasi kegiatan pembersihan dilakukan dengan baik

b. Master sanitation /cleaning program ; prosedur pembersihan peralatan, laporan realisasi kegiatan tersedia

c. Tidak ditemukan adanya penumpukan sampah /debu di area penanganan ataupun di area penyimpanan produk/ supporting material

d. Perlengkapan kebersihan terpelihara dan disimpan pada tempat yang baik dan   terlindungi

Dalam menerapkan parameter ini, hal yang harus diperhatikan adalah
  • Bahan pembersih dan alat pembersih/sanitasi yang sedang tidak dipakai harus disimpan ditempat tertentu dan terpisah dari area mesin /produksi/area kerja
  • Bahan pembersih dan sanitasi diberi label /identitas yang jelas
  • Ruang penyimpanan tersebut dilengkapi dengan daftar barang -barang yang disimpan
  • Untuk area produksi (raw house, refinery, packaging, gudang), penyimpanan pembersih dan alat pembersih harus disimpan di tempat yang terkunci.
Hal ini diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan peralatan dan/atau bahan pembersih. 
Alternatif lainnya adalah menyimpan barang – barang tersebut dalam area dimana karyawan tidak mudah masuk (contoh : ruang administrasi)

e.  Penerangan yang baik dan ada pelindung

Standar : 
  • Tersedia penerangan yang baik (tidak ditemukan lampu dalam kondisi mati/ tidak berfungsi)
  • Seluruh lampu di area produksi harus dilengkapi dengan pelindung yang dapat mencegah serpihan lampu (bila jatuh /pecah ) mengkontaminasi poduk

f. Permukaan lantai kering, tidak ada genangan air/oil/minyak saluran air tertutup atau tidak menimbulkan aroma yang tidak sedap

  • Seluruh permukaan lantai kering (tidak ditemukan genangan air , oil atau minyak)
  • Saluran air tertutup
  • Tidak tercium aroma menyengat yang berasal dari pembuangan air

g.  Tersedia tanda yang cukup mengenai implementasi GHMP disekitar bangunan

  • Terpasang tanda larangan makan /minum dan merokok
  • Terpasang tanda penggunaan kerja sesuai keperluannya
  • Terpasang tanda larangan penggunaan jam dan perhiasan
  • Tanda terkait dengan implementasi ghmp terpasang jelas dan diletakkan di tempat yang mudah terbaca oleh pekerja

h. Penataan produk /Supporting Material / Packaging Material (sesuai checklist di area) atau peralatan dilakukan dengan benar oleh pekerja, dan produk/barang selalu dalam keadaan bersih

  • Penataan produk / supporting material/packaging material sesuai dnegna lay out / denah penempatan produk /barang
  • Pada penyimpanan produk/ supporting material /packaging material terdapat jarak ± 50 cm dari dinding
  • Area sekitar tumpukan produk /supporting material /packaging material mudah dibersihkan
  • Tumpukan produk /supporting material/packaging material tidak boleh langsung diletakkan pada lantai /harus dialasi dengan palet
  • Penataan penataan kerja sesuai dengan tempat yang ditentukan, rapi dan bersih (termasuk kondisi palet untuk Area Gudang) 
Setiap parameter di beri point, lalu jumlah skornya ditotalkan untuk menjadi acuan terhadap implementasi GMP diperusahaah tersebut. Silahkan jumlahkan point tertitinggi sebagai GMP berjalan baik, terendah artinya tidak berjalan dengan baik dan menengah artinya perlu perbaikan dari unit kerja tersebut. Pedoman tersebut disesuaikan dengan produksi masing-masing. Yang saya gunakan diatas adalah pedoman untuk industri makanan.

" Dalam Mewujudkan GMP /CPMB makaTulis apa yang dikerjakan dan kerjakan apa yang ditulis dan jangan lupa selalu evaluasi hasilnya"
.





Comments

Popular posts from this blog

Penentuan Umur Simpan Produk - Shelf Life Product

Simak! Kriteria Jaminan Produk Halal

Apa Saja Sih Kategori Makanan dan Minuman Halal